Jumat, 23 Maret 2012

Dasar-dasar Perilaku Kelompok & Memahami Kerja Sama Tim


BAB 9
DASAR-DASAR PERILAKU KELOMPOK


Definisi:  Kelompok (Group) adalah dua individu atau lebih yang berinteraksi dan saling bergantung, yang bergabung untuk mencapai tujuan tertentu.

Klasifikasi Kelompok
Terdapat dua jenis kelompok, yaitu :
1.   Kelompok Formal (formal group)
-          kelompok kerja bentukan yang didefinisikan oleh struktur organisasi,
-          kelompok ciptaan manajer untuk memenuhi tujuan yang telah ditentukan oleh organisasi
-          Dibagi menjadi 2 yaitu :
a)      Kelompok komando (command groups) adalah kelompok yang terdiri atas individu yang melapor secara langsung kepada manajer. Semua kelompok komando adalah merupakan kelompok tugas, tapi tidak sebaliknya.
b)      Kelompok tugas (task group) adalah kelompok yang terdiri atas individu yang bekerja  bersama untuk menyelesaikan suatu pekerjaan/tugas/proyek tertentu. Tipe khusus dari jenis kelompok ini disebut Team.

2.   Kelompok Informal (Informal group) adalah kelompok yang tidak terstruktur formal dan tidak ditentukan oleh organisasi, tampak sebagai respon terhadap kebutuhan akan hubungan sosial. Kelompok informal dibagi menjadi 2 yaitu :
a)   Kelompok kepentingan (interest groups) adalah kelompok yang tergabung dalam sub kelompok formal yang sama maupun tidak, yang bekerja sama untuk mencapai sebuah tujuan yang menjadi kepentingan masing-masing anggota kelompok. Contoh: serikat pekerja.
b)   Kelompok persahabatan (friendship groups) adalah kelompok yang berkembang  karena anggotanya mempunyai karakteristik yang sama. 

Persamaan Kelompok Formal Dengan Informal, yaitu terdiri dari dua atau lebih individu, berinteraksi, saling bergantung, dan bergabung untuk mencapai tujuan.

Perbedaan Kelompok Formal Dengan Informal yaitu :

FORMAL  GROUP
INFORMAL GROUP

1.   Terstruktur secara formal dan organiasi.
2.   Pembagian tugas dan tanggung jawab sudah ditetapkan.
3.   Perilaku diarahkan untuk  mencapai tujuan organisasi.

1.   Tidak terstruktur secara organisasional.
2.   Formasi alami.
3.   Timbul sebagai respon terhadap kebutuhan akan kontak sosial
4.   Perilaku diarahkan untuk tujuan khusus individu.

Alasan Individu Bergabung Dalam Suatu Kelompok
  1. Rasa aman (mengurangi rasa tidak aman karena berdiri sendiri).
  2. Status (karena ingin orang lain memberikan pengakuan).
  3. Harga diri (peningkatan perasaan berharga pada diri sendiri).
  4. Afiliasi (alasan utama) yaitu menikmati interaksi yang teratur anggota kelompok.
  5. Kekuatan yaitu dalam jumlah, mempermudah pencapaian.
  6. Pencapaian tujuan yaitu pekerjaan dapat dibagi sehingga sasaran dapat tercapai.

Tahap-Tahap Perkembangan Kelompok
Terdapat dua model perkembangan kelompok yaitu  :
A.    Model 5 tahap (five  stage group developmnent) kelompok tidak selalu berproses dengan jelas dari satu tahap ke tahap selanjutnya tahap-tahap tersebut yaitu :
1.      Pembentukan (Forming stage).
      Ciri-ciri  :
·         Banyak ketidakpastian.
·         Anggota mulai menyesuaikan perilakunya, mengetes posisi mereka dan menanyakan hal-hal kepada anggota lini.
·         Keadaan kelompok mudah goyah, tetapi tetap pada aturan yang ditetapkan.
        Tahap ini proses sebelum individu menganggap diri sebagai bagian dari kelompok. 

2.      Timbulnya konflik (storming stage)
 Ciri-ciri  :
·         Ada konflik dalam kelompok, dimana terdapat penolakan terhadap batasan-batasan yang ditetapkan kelompok (konflik intra kelompok maupun konflik kepemimpinan)
·         Anggota mulai berdebat, berargumen, mencoba-coba posisi.
·         Hirarki kelompok mulai tampak

3.      Normalisasi (Norming stage)
      Ciri-ciri  :
·         Hubunngan dan kekohesivitas kelompok menjadi erat.
·         Mulai berkerja efektif secara bersama-sama.
·         Ada perasaan kebersamaan dan perasaan dalam suatu kelompok.

4.      Berkinerja (performing stage)
      Ciri-ciri  :
·         Berfungsinya kelompok.
·         Struktur,hirarki dan norma kelompok sudah mapan.
·         Kelompok sudah matang.
·         Merupakan tahap akhir bagi keloompok kerja permanen.

5.      Pembubaran (Adjourning stage)
      Ciri-ciri  :
·         Penyelesaian aktivitas (bukan tugas).
·         Kelompok siap-siap bubar.

      Model ini hanya berlaku untuk kelompok kerja dengan tenggat waktu (misalnya komisi, tim, angkatan, kelompok tugas dll)

B.     Model ekuilibrium tersebar (Punctuated-equilibrium model)
      suatu model alternafit untuk kelompok sementara dengan tenggat waktu. Fase perkembangan kelompok ini unik yaitu :
Fase 1 :
a.       menentukan arah kelompok, menyusun tujuan.
b.      kelompok cenderung berdiam diri atau terpaku pada tindakan tertentu (periode inersia).
c.       memakan waktu separoh jalan dari waktu yang ditentukan.
d.      diakhiri dengan transisi yaitu ledakan perubahan yang terkonsentrasi dengan menanggalkan pola-pola lama dan mengadopsi prespektif baru.

Fase 2 :
e.       Keseimbangan baru atau kurun waktu inersia baru.
f.       Menjalankan rencana yang dibentuk pada periode transisi.

Fase 3 :
g.  Tujuan tercapai.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Individu Dalam
Faktor-faktor yang  mempengaruhi perilaku individu dalam kelompok yaitu :
1.      Peran,  adalah serangkaian pola perilaku yang diharapkan dari seseorang individu yang menempati posisi tertentu dalam sebuah unit sosial tertentu.
Kelompok yang berbeda akan menerapkan kebutuhan peran yang berbeda, yaitu :
a.       Identitas peran (role identity) adalah sikap dan perilaku tertentu yang kosisten dengan sebuah peran.
b.      Persepsi peran (role perception) adalah pandangan individu atas bagaimana harus bertindak dalam situasi tertentu. Persepsi peran didapat dari sekeliling, misalnya teman, buku, film, telivisi, program magang dll.
c.       Ekspektasi peran (role expectation) adalah apa yang diyakini individu lain, mengenai bagaimana individu harus bertindak dalam suatu situasi (apa yang diharapkan manajemen dari pekerja dan sebaliknya). Hal ini dapat dilihat melalui Kontrak psikologi (psychological contract) atau suatu perjanjian tidak tertulis di antara karyawan dan pemberi kerja. Jika manajemen lalai, maka akan timbul reaksi negatif dalam kinerja dan kepuasan karyawan dan jika karyawan lalai maka adakan timbul tindakan disipliner (peringatan) bahkan dapat pula pemecatan.
d.      Konflik peran (role conflict)  hal ini muncul jika terdapat dua atau lebih ekspektasi peran yang saling bertentangan.

  1. Norma kelompok adalah standar perilaku yang dapat diterima yang digunakan bersama oleh para anggota kelompok. Semua jenis kelompok memilikinya, namun bentuk berbeda-beda.
Hawthorne malakukan tiga penelitian, faktor-faktor apakah (tersebut di bawah ini) akan mempengaruhi produktivitas (dimana salah satu penelitian tersebut menyumbangkan suatu faktor yang mempengaruhi perilaku individu terhadap kelompok). Faktor-faktor  yang diteliti  yaitu :
a.       Pengaruh penerangan.
b.      Pengaruh isolasi  dan seorang pengawas.
c.       Pengaruh insentif (penelitian dilakukan bersama dengan Prof Mayo).
Pada faktor penerangan (a) dan pemberian insentif (c) tidak mempengaruhi secara signifikan tingkat produktivitas, sedangkan faktor isolasi  berpengaruh secara signifikan terhadap produktivitas karena kelompok tersebut merasa seperti sebuah kelompok elit. Pengaruh insentif tidak signifikan karena ternyata hasil kelompok tersebut dikendalikan oleh suatu norma kelompok (misalnya sejumlah larangan tertentu, jumlah hasil yang tidak bterlalu banyak atau terlalu sedikit).
Ada empat macam kategori norma yaitu :
a.       Norma kelas umum adalah norma kelas  yang paling umum tampak dalam kelompok kerja. Terdapat beberapa kategori yaitu :
·            Norma kinerja, dimana para anggota kelompok diberi petunjuk eksplisit tentang kerasnya bekerja, menyelesaikan pekerjaan, tingkat hasil, tingkat kelambanan yang pentas dll.
·           Norma penampilan, meliputi jenis pakaian yang pantas, loyalitas, kapan terlihat sibuk atau santai.
·           Norma pengaturan sosial (khususnya kelompok informal),  yaitu mengatur interaksi sosial dalam kelompok.
·           Norma alokasi sumber daya, norma ini berasal dari dalam kelompok seperti tentang bayaran, penugasan pekerjaan sulit, alokasi peralatan.

b.      Konformitas, tekanan kepada individu untuk mengubah sikap dan perilaku mereke untuk menyesuaikan diri dengan standar kelompok referensi (kelompok penting) agar dapat diterima oleh kelompok tersebut. Tekanan konformitas akan menghasilkan subyek tidak bersalah (USS:Unsuspecting Subject), rata-rata 37 % orang melakukan ini. Norma ini tinggi pada kultur kolektivitas dibandingkan dalam kultur individualitis.
c.       Perilaku menyimpang di tempat kerja atau perilaku anti sosial adalah perilaku disengaja yang melanggar norma-norma organisasional signifikan, dan melakukanya, mengancam kesejahteraan organisasi atau anggota-anggotanya. Perilaku ini dibentuk oleh konteks kelompok, selain itu menjadi bagian dari kelompok akan meningkatkan perilaku menyimpang seorang individu.

  1. Status kelompok yaitu posisi atau peringkat yang ditentukan secara sosial, diberikan kekelompok atau anggota kelompok lain.
Perbedaan dalam karakteristik status menciptakan hirarki dalam kelompok, disebut dengan Teori karakteristik status (status characteristic theory). Sumber status adalah salah satu dari :
a.       Pengaruh kekuasaan seseorang atas orang lain (semakin besar kekuasaan, semakin tinggi status).
b.      Kemampuan seseorang untuk berkontribusi terhadap tujuan sebuah kelompok (semakin besar kontribusinya dalam keberhasilan kelompok, semakin tinggi status).
c.       Karakteristik pribadi seorang individu yang dihargai secara positif oleh kelompok (misalnya : cantik, ramah, cerdas dll, maka semakin tinggi status).

Hubungan/pengaruh status dengan norma:
Ø  Anggota dengan tinggi status diberi kebebasan lebih untuk menyimpang dari norma dibandingkan dengan anggota yang lain.
Ø  Anggota dengan status tinggi lebih mampu menolak tekanan konformitas dibandingkan dengan anggota lain

Hubungan/pengaruh status dengan interaksi kelompok:
            Individu dengan status lebih tinggi cenderung lebih tegas, sering bicara secara terbuka,mengkritik, perintah dan menginterupsi orang lain. Sehingga individu dengan status lebih rendah cenderung tidak digunakan secara penuh ide/wawasannya, akibatnya mereka cenderung pasiff, hal ini akan mengurangi kinerja kelompok secara keseluruhan.

Ketidaksetaraan status.
Ketika hal ini terjadi maka :
-          Akan menciptakan keridakseimbangan yang menghasilkan berbagai jenis perilaku korektif.
-          Merasa diperlakukan tidak adil
-          Menciptakan konflik

Hubungan/pengaruh status dan kultur:
            Individu harus memahami status dalam suatu kultur, karena hal ini berpengaruh pada efektivitas antar personalnya. Misalnya di negara Jepang, silsilah keluarga merupakan penentu status demikian juga di negara Inggris, kelas sosial menentukan tinggi rendahnya status.
  1. Ukuran kelompok yaitu besar atau kecilnya kelompok, rata-rata anggota kelomppok terdiri atas 5-7 anggota (jumlah anggota ganjil lebih disukai, karena menghilangkan kemungkinan seri ketika diadakan pengambilan suara) cenderung efektif untuk melakukan tindakan. Kemalasan sosial (social Loafing) adalah sebuah kecenderungan pada individu untuk mengeluarkan usaha yang lebih sedikit ketika bekerja secara kolektif dari pada ketika bekerja secara individual. Kinerja kelompok meningkat seiring dengan ukuran kelompok, tetapi produktivitas individual setiap anggota kelompok menjadi turun. Penyebab kemalasan sosial adalah anggapan bahwa tidak ada ukuran/teridentifikasinya usaha individu.

  1. Kekohesifan  adalah tingkat di mana para anggota kelompok saling tertarik satu sama lain dan termotivasi untuk tinggal di dalam kelompok tersebut. Hal-hal yang mendorong yaitu :
a.       Membuat kelompok menjadi lebih kecil
b.      Mendorong untuk mengadakan perjanjian dengan tujuan kelompok
c.       Meningkatkan waktu yang dihabiskan anggota secara bersama-sama
d.      Meningkatkan status kelompok dan anggapan sulitnya menjadi anggota dari kelompok tersebut
e.       Mendorong persaingan dengan kelompok lain
f.       Memberikan penghargaan kepada kelompok dan tidak kepada anggota secara individual
g.      Secara fisik mengisolasi kelompok tersebut.

Hubungan kekohesifan dengan kultur :
            Ketika sebuah tim diberi tugas yang menantangan dan diberi kebebasan , maka bagi tim dengan kultur individualis terjadi kekohesifan (lebih bersatu dan komitmen) dan kinerja yang lebih tinggi dibandingkan dengan tim dari kultur kolektivis.

TEKNIK PENGAMBILAN KEPUTUSAN KELOMPOK
Pengambilan Keputusan kelompok:
Ø  Keunggulan :
·         Kelompok menghasilkan informasi dan pengetahuan yang lebih lengkap (lebih banyak masukan).
·         Kelompok menawarkan keanekaragaman pandangan (banyak alternatif pertimbangan).
·         Kelompok dapat meningkatkan penerimaan (antusias) atas sebuah solusi dan mendorong orang lain untuk menerimanya.
·         Keputusan kelompok biasanya lebih akurat dan efektif (dalam hal kreativitas dan tingkat penerimaan atas solusi akhir yang dicapai.

            Keunggulan tersebut dapat dicapai, dengan memenuhi kriteria sebagai berikut: keragaman di antara anggota, Anggota kelompok harus mampu mengkomunikasikan ide-ide mereka secara bebas dan terbuka (tidak ada permusuhan dan intimidasi), dan tugas yang dikerjakan kompleks.

Ø  Kelemahan :
·         Membutuhkan waktu lebih banyak untuk mencapai sebuah solusi (kurang efisien dibandingkan keputusan individual).
·         Terdapat tekanan konformitas dalam kelompok.
·         Diskusi didominasi oleh sedikit anggota, jika kemampuan anggota rendah dan menengah.
·         Adanya tanggung jawab yang ambigu  (tidak jelas pada anggota yang mana).
·         Keputusan kelompok lebih konservatif dibandingkan dengan keputusan individual.

Fenomena atau Penyakit Pengambilan Keputusan Kelompok
  1. Penyakit pemikiran kelompok (groupthink) yaitu tekanan kelompok untuk konformitas (norma menuju konsensus) menghalangi kelompok tersebut kritis.
Cara untuk meminimalkan/mengeliminasi pemikiran kelompok  yaitu :
a.       Memantau ukuran kelompok.
b.      Mendorong pimpinan kelompok untuk tidak membeda-bedakan anggota kelompok.
c.       Aktif mencari masukan dari semua anggota serta menghindari mengekspresikan pendapat pimpinan kelompok itu sendiri.
d.      Menunjuk salah satu anggota kelompok berperan sebagai devil’s advocate (yaitu menolak posisi mayoritas dan menawarkan prespektif yang berbeda).
e.       Pelatihan

  1. Penyakit pergeseran kelompok (groupshift) yaitu para anggota kelompok cenderung berlebihan dalam diskusi.


Teknik-Teknik Pengambilan Keputusan Kelompok
Teknik-teknik pengambilan keputusan kelompok ada
  1. Kelompok yang berinteraksi – interacting group (teknik tradisional, yang paling umum terjadi).
Para anggota bertemu secara tatap muka dan mengandalkan interaksi verbal maupun non verbal, dimana tekanan konformitas dalam kelompok ini memperlambat perkembangan alternatiff kreatif.
  1. Tukar pikiran (brainstorming), teknik ini dimaksudkan untuk mengatasi tekanan konformitas
  2. Teknik kelompok nominal (nominal group technique), teknik ini memberikan hasil yang lebih baik disbanding dengan tukar pikiran. Dalam teknik ini tidak ada diskusi  atau komunikasi antar personal selama proses pengambilan keputusan, tetapi semua anggota hadir dan bertemu. Para anggota menuliskan idenya pada sebuah kertas, disampaikan secara bergilir dan direkam. kemudian didiskusikan. Dibuat rating, rating tertinggi sebagai dasar keputusan final.
  3. Pertemuan dengan media elektronik
Teknik ini menyatukan teknik nominal dengan teknologi komputer. Para anggota mengetik idenya pada komputer. Teknik ini menurunkan efektivitas kelompok, membutuhkan waktu yang banyak
Mengevaluasi efektivitas kelompok

Kriteria efektivitas
Interaksi
Tukar pikiran
Nominal
Elektronik
Jumlah & kualitas ide
Rendah
Menengah
Tinggi
Tinggi
Tekanan sosial
Tinggi
Rendah
Menengah
Rendah
Biaya uang
Rendah
Rendah
Rendah
Tinggi
Kecepatan
Menengah
Menengah
Menengah
Menengah
Orientasi tugas
Rendah
Tinggi
Tinggi
Tinggi
Potensi untuk konflik antar personal
Tinggi
Rendah
Menengah
Rendah
Komitmen pada solusi
Tinggi
Tidak dpt diterapkan
Menengah
Menengah
Pengembangan kohesifan kelompok
Tinggi
Tinggi
Menengah
Rendah


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar