Jumat, 23 Maret 2012

Persepsi dan Pembuatan Keputusan Individual


 
Pengertian Persepsi
Persepsi adalah proses di mana individu mengatur dan menginterprestasikan kesan-kesan sensoris mereka guna memberikan arti bagi lingkungan mereka.

Faktor-faktor yang memengaruhi Persepsi
Ketika seseorang melihat sebuah target dan berusaha untuk menginterpretasikan apa yang dilihatnya, interpretasi itu sangat dipengaruhi oleh berbagai karakteristik pribadi dari orang tersebut. Karakteristik pribadi yang memengaruhi persepsi meliputi sikap, kepribadian, motif, minat, pengalaman masa lalu, dan harapan seseorang.

Persepsi Seseorang: Membuat Penilaian Tentang Individu Lain
Teori Hubungan
Merupakan usaha ketika individu-individu mengamati perilaku untuk menentukan apakah hal ini disebabkan secara internal atau eksternal. Persepsi kita tentang individu, berbeda dengan persepsi kita tentang benda-benda mati. Karena kita membuat kesimpulan tentang berbagai tindakan dari individu yang tidak kita temui pada benda-benda mati. Teori hubungan telah dikemukakan untuk mengembangkan penjelasan tentang cara-cara kita menilai individu secara berbeda, bergantung pada arti yang kita hubungkan dengan perilaku tertentu. Pada dasarnya, teori ini mengemukakan bahwa ketika mengobservasi perilaku seorang individu, kita berupaya untuk menentukan apakah perilaku tersebut disebabkan secara internal dan eksternal. Namun sebagian besar penentuan tersebut bergantung pada tiga faktor yaitu: kekhususan, konsensus, dan konsistensi.
   Perilaku yang disebabkan secara internal adalah perilaku yang diyakini dipengaruhi oleh kendali pribadi seorang individu. Sedangkan perilaku yang disebabkan secara eksternal dianggap sebagai akibat dari sebab-sebab luar, yaitu individu tersebut dianggap telah dipaksa berperilaku demikian oleh situasi. Sekarang akan dibahas tiga faktor yang menentukan ini. Kekhususan merajuk pada apakah seorang individu memperlihatkan perilaku-perilaku berbeda dalam situasi-situasi berbeda. Apabila semua individu yang menghadapi situasi serupa merespons dalam cara yang sama, kita bisa berkata bahwa perilaku tersebut menunjukkan konsensus. Pada akhirnya, seorang pengamat mencari konsistensi dalam tindakan-tindakan seseorang.
   Salah satu penemuan yang lebih menarik dalam teori hubungan adalah terdapat kesalahan atau bias yang mengubah berbagai hubungan. Hal ini disebut sebagai kesalahan hubungan yang fundamental dan bisa menjelaskan mengapa seorang manajer penjualan cenderung menghubungkan kinerja yang buruk dari para agen penjualannya dengan kemalasan daripada dengan lini produk inovatif yang diperkenalkan oleh saingan. Ada juga kecenderungan bagi para individu dan organisasi untuk menghubungkan keberhasilan mereka dengan faktor-faktor internal seperti, kemampuan atau usaha, sementara menyalahkan faktor-faktor eksternal seperti keberuntungan yang buruk atau rekan-rekan kerja yang tidak produktif atas kegagalan. Hal ini disebut bias pemikiran diri sendiri (self-serving bias).
Observasi                      Interpretasi                 Hubungan Sebab
Eksternal
                                                                            Tinggi
Kekhususan
 

Internal
                                                                          
                                                                           Rendah
Eksternal
                                                                           Tinggi
Perilaku Individual
Konsensus
 

Internal
                                                                          
                                                                         Rendah
Konsistensi
Eksternal
                                                                                    Tinggi
Internal
           
                                                                                   
                                                                                   Rendah

Gambar 1. Teori Hubungan

Jalan Pintas yang Sering Digunakan Dalam Menilai Individu Lain
Kita menggunakan sejumlah jalan pintas ketika menilai individu lain. Mengartikan dan menginterpretasikan apa yang dilakukan oleh individu lain sangat sulit. Akibatnya, para individu mengembangkan berbagai teknik untuk membuat tugas tersebut menjadi lebih bisa diatur. Teknik-teknik ini memungkinkan kita untuk membuat berbagai persepsi yang akurat dengan cepat dan memberikan data yang valid untuk membuat berbagai prediksi. Namun teknik ini bukan merupakan teknik yang mudah yang bisa dilakukan oleh siapapun. Pemahaman hal ini bermanfaat dalam mengenali kapan teknik-teknik tersebut dapat mengakibatkan penyimpangan yang signifikan.

Persepsi Seleksi
Persepsi seleksi menginterpretasikan secara selektif apa yang dilihat seseorang berdasarkan minat, latar belakang, pengalaman, dan sikap seseorang. Karakteristik apapun yang membuat seseorang, objek, atau peristiwa bisa dikenali dengan mudah meningkatkan kemungkinannya untuk diterima. Karena tidak mungkin bagi kita untuk menerima semua yang kita lihat. Kecenderungan ini menjelaskan kenapa anda kemungkinan besar lebih memerhatikan barang yang seperti milik anda. Karena kita tidak bisa mengamati semua yang terjadi tentang diri kita, kita terlibat dalam persepsi selektif.
          Dearborn dan Simon melakukan sebuah penelitian persepsi dimana 23 eksekutif bisnis (6 dari bagian penjualan, 5 dari bagian produksi, 4 dari bagian akuntansi, dan 8 dari bagian umum) membaca sebuah kasus komprehensif yang mendeskripsikan organisasi dan aktivitas sebuah perusahaan baja. Setiap manajer diminta untuk menuliskan masalah paling penting yang mereka temukan dalam kasus tersebut. 83% eksekutif penjualan menganggap penting penjualan; hanya 29% eksekutif dari bagian lain yang beranggapan demikian. Bersama hasil-hasil lain dari penelitian tersebut, para peneliti menyimpulkan bahwa partisipan menerima aspek-aspek situasi yang khususnya berhubungan dengan aktivitas-aktivitas dan tujuan-tujuan unit dengan bagian mana mereka terkait. Persepsi sebuah kelompok tentang aktivitas-aktivitas organisasional diubah secara selektif agar sejalan dengan minat-minat pribadi yang mereka tunjukkan. Dengan perkataan lain, ketika stimulus yang ada bersifat ambigu, persepsi cenderung lebih dipengaruhi oleh dasar interpretasi seorang individu (yaitu sikap, minat, dan latar belakang). Daripada stimulus itu sendiri.

Efek Halo
Efek halo membuat sebuah gambaran umum tentang seorang individu berdasarkan sebuah karakteristik. Ketika kita membuat sebuah kesan umum tentang seorang individu berdasarkan sebuah karakteristik, seperti kepandaian, keramahan, atau penampilan, maka efek halo sedang bekerja. Fenomena ini seringkali muncul ketika para siswa menilai guru mereka.
   Kenyataan tentang efek halo diperkuat dalam sebuah penelitian dimana para pelaku diberi daftar sikap (seperti pandai, mahir, praktis, rajin, tekun, dan ramah), kemudian diminta untuk mengevaluasi individu dengan sifat-sifat tersebut diberlakukan. Kecenderungan berlakunya efek halo tidaklah acak. Penelitian menunjukkan bahwa hal ini cenderung menjadi sangat ekstrim ketika sifat-sifat yang harus diterima bersifat ambigu sehubungan dengan perilaku, ketika sifat-sifat tersebut mempunyai kualitas tambahan moral dan ketika si penerima menilai sifat-sifat tersebut dengan pengalaman yang terbatas.

Efek-efek Kontras
Yaitu evaluasi tentang karakteristik-karakteristik seseorang yang dipengaruhi oleh perbandingan-perbandingan dengan orang lain yang baru ditemui, yang mendapat nilai lebih tinggi atau lebih rendah untuk karakteristik-karakteristik yang sama. Efek-efek kontras dapat mengubah persepsi. Kita tidak mengevaluasi seseorang secara terisolasi. Reaksi kita terhadap seorang individu dipengaruhi oleh individu lain yang baru kita temui.

Proyeksi
Menghubungkan karakteristik-karakteristik diri sendiri dengan individu lain. Mudah untuk menilai individu lain bila kita beranggapan bahwa mereka mirip dengan diri kita. Proyeksi bisa mengubah berbagai persepsi yang dibuat seseorang terhadap individu lain. Individu yang terlibat dalam proyeksi cenderung menerima individu lain sesuai dengan gambaran diri mereka sendiri dibandingkan berdasarkan hasil observasi mengenai gambaran diri individu tersebut. Ketika para manajer terlibat dalam proyeksi, mereka mengkompromikan kemampuan mereka untuk merespons perbedaan-perbedaan individual. Mereka cenderung melihat individu lain secara lebih homogen dibandingkan yang sebenarnya.

Pembentukan Stereotip
Ketika menilai seseorang berdasarkan persepsi tentang kelompok di mana ia tergabung, kita menggunakan jalan pintas yang disebut pembentukan stereotip (Stereotyping). Yaitu menilai seseorang berdasarkan persepsi tentang kelompok dimana ia tergabung. Kita mengandalkan generalisasi karena generalisasi membantu kita membuat keputusan dengan cepat dan akurat. Generalisasi adalah sebuah cara penyederhanaan dunia yang kompleks, dan memungkinkan kita mempertahankan konsistensi.

Berbagai Aplikasi Khusus dari Jalan Pintas Dalam Organisasi

Wawancara Pekerjaan
Input utama mengenai siapa yang diterima dan siapa yang ditolak masuk dalam suatu organisasi disebut dengan wawancara. Para pewawancara biasanya membuat gambaran awal yang mengakar dengan sangat cepat. Apabila informasi negatif diungkapkan di awal wawancara, informasi ini cenderung dititikberatkan dibandingkan apabila informasi yang sama muncul belakangan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar keputusan pewawancara hanya mengalami sedikit perubahan setelah 4 atau 5 menit pertama dari proses wawancara. Akibatnya, informasi yang diperoleh di awal wawancara memiliki bobot yang lebih berat dibandingkan informasi yang diperoleh belakangan, dan ‘pelamar yang baik’ mungkin dinilai lebih oleh ketiadaan karakteristik yang tidak baik, dan bukan karena adanya karakteristik yang baik.



Harapan Kinerja
Ada banyak bukti yang menunjukkan bahwa individu akan berusaha untuk mengesahkan persepsi mereka tentang kenyataan, bahkan ketika persepsi-persepsi tersebut salah. Karakteristik ini sangat relevan ketika kita mempertimbangkan harapan kinerja dalam pekerjaan. Istilah ‘ramalan yang terealisasi sendiri’ atau efek Pygmalion, telah berkembang untuk mendeskripsikan kenyataan bahwa perilaku seorang individu ditentukan oleh harapan-harapan individu lain.

Pembentukan Profil Etnis
Yaitu pembentukan stereotip di mana satu kelompok individu dipilih (biasanya berdasarkan ras atau etnis) untuk penyelidikan intensif, inspeksi ketat, atau investigasi.

Evaluasi Kinerja
Perlu dikemukakan disini bahwa penilaian kinerja seorang karyawan sangat bergantung pada proses penginterpretasian. Masa depan seorang karyawan berhubungan erat dengan penilaian-promosi, kenaikan gaji, dan kelanjutan pekerjaan merupakan beberapa hasil yang paling nyata.

Hubungan Antara Persepsi dan Pembuatan Keputusan Individual
Para individu dalam organisasi membuat keputusan (decision), artinya mereka membuat pilihan-pilihan dari dua alternatif atau lebih. Pembuatan keputusan individual merupakan satu bagian penting dari perilaku organisasi. Tetapi, bagaimana para individu dalam organisasi membuat berbagai keputusan dan kualitas dari pilihan-pilihan akhir mereka sangat dipengaruhi oleh persepsi-persepsi mereka.
Pembuatan keputusan muncul sebagai reaksi atas sebuah masalah. Artinya, ada ketidaksesuaian antara perkara saat ini dan keadaan yang diinginkan, yang membutuhkan pertimbangan untuk membuat beberapa tindakan alternatif. Kesadaran bahwa terdapat sebuah masalah dan bahwa sebuah keputusan harus dibuat, merupakan persoalan penginterpretasian. Setiap keputusan membutuhkan interpretasi dan evaluasi informasi. Biasanya, data diperoleh dari banyak sumber dan data-data tersebut harus disaring, diproses, dan diinterpretasikan. Pada akhirnya, dari seluruh proses keputusan, seringkali muncul berbagai penyimpangan penginterpretasian yang berpotensi mempengaruhi analisis dan kesimpulan.




Bagaimana Seharusnya Keputusan Dibuat?
Proses Pembuatan Keputusan yang Rasional
Kita sering berpikir bahwa pembuat keputusan yang paling baik adalah yang rasional. Artinya, pembuat keputusan tersebut membuat pilihan-pilihan yang konsisten dan memaksimalkan nilai dalam batasan-batasan tertentu.

Model Rasional
Enam langkah dalam model pembuatan keputusan yang rasional:
1.      Mendefinisikan masalahnya, sebuah masalah ada ketika terdapat ketidaksesuaian antara keadaan yang ada dan keadaan perkara yang diinginkan. Anda mendefinisikan sebuah masalah, banyak keputusan buruk disebabkan oleh si pembuat keputusan yang mengabaikan sebuah masalah atau mendefinisikan masalah yang salah.
2.      Mengidentifikasikan kriteria keputusan, dalam langkah ini, pembuat keputusan menentukan apa yang relevan dalam membuat keputusan. Langkah ini memproses berbagai minat, nilai, dan pilihan pribadi yang serupa dari si pembuat keputusan. Pengidentifikasian kriteria tersebut penting karena apa yang dianggap relevan oleh seorang individu belum tentu demikian bagi individu lain. Selain itu, ingatlah bahwa faktor-faktor yang tidak diidentifikasi dalam langkah ini dianggap tidak relevan dengan si pembuat keputusan.
3.      Menimbang kriteria tersebut, hal ini dilakukan guna memberi mereka prioritas yang tepat dalam keputusan tersebut, karena semua kriteria yang diidentifikasikan jarang sekali memiliki tingkat kepentingan yang sama.
4.      Mengembangkan alternatif, tidak ada usaha yang dikerahkan dalam langkah ini untuk menilai alternatif-alternatif tersebut, hanya untuk menyebutkan mereka.
5.      Mengevaluasi alternatif-alternatif yang ada, dilakukan setelah alternatif-alternatif dibuat. Kelebihan dan kekurangan setiap alternatif menjadi jelas ketika alternatif tersebut dibandingkan dengan kriteria dan bobot yang diperoleh di langkah kedua dan ketiga.
6.      Memilih alternatif terbaik, merupakan langkah terakhir dalam model ini. Hal ini dilakukan dengan mengevaluasi setiap alternatif terhadap kriteria yang ditimbang dan memilih alternatif yang memiliki nilai total lebih tinggi.

Asumsi-asumsi dari Model Tersebut
Model pembuatan keputusan rasional meliputi beberapa asumsi:
1.      Kejelasan masalah
2.      Pilihan-pilihan yang diketahui
3.      Pilihan-pilihan yang jelas
4.      Pilihan-pilihan yang konstan
5.      Tidak ada batasan waktu atau biaya
6.      Hasil maksimum

Meningkatkan Kreativitas Dalam Pembuatan Keputusan
Meskipun mengikuti langkah-langkah model pembuatan keputusan yang rasional seringkali bisa memperbaiki keputusan, pembuat keputusan yang rasional juga membutuhkan kreativitas, yaitu kemampuan menciptakan ide-ide baru dan bermanfaat. Kreativitas memungkinkan pembuat keputusan untuk menilai dan memahami masalah dengan lebih mendalam, termasuk melihat masalah-masalah yang tidak bisa dilihat oleh individu lain. Namun yang paling jelas dari kreativitas adalah dalam membantu pembuat keputusan mengidentifikasi alternatif yang belum jelas.

Potensial yang Kreatif
Sebagian besar individu memiliki potensial kreatif yang bisa mereka gunakan ketika berhadapan dengan masalah pembuatan keputusan. Tetapi untuk mengeluarkan potensi tersebut, mereka harus keluar dari pola psikologis yang kita miliki dan belajar melihat sebuah masalah dalam cara-cara yang berbeda.

Tiga Komponen Model Kreativitas
Berdasarkan sejumlah penelitian yang ekstensif, model ini mengemukakan bahwa kreativitas individual pada dasarnya membutuhkan keahlian, keterampilan berpikir kreatif, dan motivasi tugas intrinsik. Penelitian menegaskan bahwa semakin tinggi tingkat setiap komponen, semakin tinggi pula kreativitasnya.
Keahlian adalah dasar untuk setiap pekerjaan kreatif. Potensial untuk kreativitas meningkat ketika individu mempunyai kemampuan, pengetahuan, kecakapan, dan keahlian serupa dalam bidang usaha mereka. Komponen kedua adalah keterampilan berpikir kreatif. Hal ini mencakup karakteristik kepribadian yang berhubungan dengan kreativitas, kemampuan untuk menggunakan analogi, serta bakat untuk melihat sesuatu yang sudah lazim dari sudut pandang berbeda. Komponen ketiga adalah motivasi tugas intrinsik. Motivasi ini adalah keinginan untuk mengerjakan sesuatu karena hal tersebut menarik, rumit, mengasyikkan, memuaskan, atau menantang secara pribadi. Jadi, individu yang kreatif seringkali mencintai pekerjaan mereka, sampai di sebuah titik mereka terlihat terobsesi. Yang penting adalah lingkungan kerja seorang individu bisa berpengaruh signifikan terhadap motivasi intrinsik.




Keahlian
Keterampilan-keterampilan kreativitas
Motivasi tugas
 






Gambar 2. Tiga Komponen Kreativitas

Bagaimanakah Sebenarnya Keputusan Dalam Organisasi Dibuat?
Rasionalitas yang Dibatasi
Ketika dihadapkan dengan sebuah masalah yang kompleks, sebagian besar individu merespon dengan mengurangi masalah tersebut sampai pada tingkat hingga masalah itu bisa dimengerti dengan mudah. Ini terjadi karena kemampuan pemrosesan informasi yang terbatas dari manusia membuatnya tidak mungkin menerima dan memahami semua informasi yang dibutuhkan untuk berbuat yang terbaik. Karena kemampuan pikiran manusia untuk merumuskan dan menyelesaikan masalah-masalah kompleks terlalu kecil untuk memenuhi berbagai persyaratan rasionalitas, individu beroperasi dalam rasionalitas yang dibatasi. Mereka membuat berbagai model sederhana yang menggali fitur dasar dari masalah tanpa mendapatkan semua kerumitannya.
Salah satu aspek yang lebih menarik dari rasionalitas yang dibatasi adalah susunan dari alternatif-alternatif yang dianggap penting dalam menentukan alternatif-alternatif yang dipilih. Karena pembuat keputusan menggunakan model-model yang sederhana dan terbatas, mereka biasanya memulai dengan mengidentifikasikan alternatif-alternatif yang nyata, yang lazim menurut mereka, dan tidak terlalu jauh dari status quo.

Bias dan Kesalahan Umum
Para pembuat keputusan terlibat dalam rasionalitas yang dibatasi, tetapi sejumlah penelitian memberitahu kita bahwa pembuat keputusan juga memungkinkan berbagai bias dan kesalahan sistematis memasuki penilaian-penilaian mereka. Penyimpangan-penyimpangan yang paling umum, antara lain:
1.      Bias Kepercayaan Diri yang Berlebih (Overconfidence Bias), dari sudut pandang organisasional, salah satu penemuan menarik terkait masalah  ini adalah individu yang kemampuan intelektual dan antarpersonalnya paling lemah, kemungkinan besar menaksir kinerja dan kemampuan mereka terlalu tinggi. Kepercayaan diri yang berlebih kemungkinan besar muncul ketika anggota-anggota organisasional mempertimbangkan isu-isu atau masalah-masalah yang berada di luar bidang keahlian mereka.
2.      Bias Jangkar, adalah kecenderungan untuk sangat tertarik dengan informasi awal, dari mana kita kemudian gagal menyesuaikan diri dengan baik untuk informasi yang berikutnya. Bias jangkar terjadi karena pikiran kita muncul untuk memberikan sejumlah penekanan yang tidak seimbang terhadap informasi awal yang diterima.
3.      Bias Konfirmasi, adalah kecenderungan untuk mencari informasi yang menguatkan pilihan-pilihan masa lalu dan mengabaikan informasi yang bertentangan dengan penilaian-penilaian masa lalu.
4.      Bias Ketersediaan, adalah kecenderungan individu mendasarkan penilaian mereka pada informasi yang sudah tersedia bagi mereka. Peristiwa-peristiwa yang memicu emosi, yang sangat nyata, atau yang terjadi baru-baru ini cenderung lebih berada dalam ingatan kita. Akibatnya, kita cenderung menaksir terlalu tinggi peristiwa-peristiwa yang kurang mungkin terjadi
5.      Bias Representatif, adalah menilai kemungkinan suatu kejadian dengan menganggap situasi saat ini sama seperti situasi di masa lalu.
6.      Peningkatan komitmen, merajuk pada sikap mempertahankan sebuah keputusan meskipun terdapat bukti nyata bahwa keputusan tersebut salah. Telah terbukti bahwa individu meningkatkan komitmen untuk tindakan yang tidak berhasil ketika mereka menganggap diri mereka bertanggung jawab atas kegagalan tersebut.
7.      Kesalahan yang Tidak Disengaja, adalah kecenderungan individu untuk percaya bahwa mereka bisa memprediksi hasil dari peristiwa-peristiwa yang tidak disengaja.
8.      Kutukan Pemenang, adalah proses pembuatan keputusan yang memperlihatkan bahwa partisipan yang menang dalam sebuah lelang biasanya membayar terlalu tinggi untuk barang yang dimenangkan.
9.      Bias Peninjauan Kembali, adalah kecenderungan kita untuk pura-pura yakin bahwa kita telah memprediksikan hasil dari sebuah peristiwa secara akurat, setelah hasil itu benar-benar diketahui.

Intuisi
Pembuatan keputusan yang intuitif adalah sebuah proses tak sadar yang berasal dari pengalaman yang disaring. Proses ini tidak selalu terlepas dari analisis rasional. Sebaliknya, keduanya saling melengkapi, dan yang terpenting, intuisi bisa menjadi suatu kekuatan yang sangat kuat dalam pembuatan keputusan. Seorang individu cenderung menggunakan pembuatan keputusan intuitif pada kondisi-kondisi berikut:
1.      Ketika terdapat tingkat ketidakpastian yang tinggi;
2.      Ketika hanya terdapat sedikit teladan yang bisa digunakan;
3.      Ketika variabel-variabelnya kurang bisa diprediksi secara ilmiah;
4.      Ketika ‘fakta-fakta’ dibatasi;
5.      Ketika fakta-fakta tidak menunjukkan jalan dengan jelas;
6.      Ketika hanya digunakan sedikit data analisis;
7.      Ketika terdapat beberapa solusi alternatif masuk akal yang bisa dipilih, dimana setiap solusi memiliki penjelasan yang baik; dan
8.      Ketika waktu yang ada sangat terbatas dan terdapat tekanan untuk membuat keputusan yang teapat.

Meskipun pembuatan keputusan intuitif telah mendapatkan kehormatan, jangan mengharap individu-individu lain mengakui bahwa mereka menggunakannya. Individu yang memiliki kemampuan intuitif kuat biasanya tidak memberitahu kolega-kolega mereka bagaimana mereka mendapatkan kesimpulan-kesimpulan mereka. Karena analisis rasional lebih disukai secara sosial, kemampuan intuitif seringkali disamarkan atau disembunyikan.

Perbedaan-Perbedaan Individual
Dalam bagian ini kita meninjau dua variabel perbedaan individual, yaitu kepribadian dan gender.

Kepribadian
Belum ada banyak penelitian tentang kepribadian dan pembuatan keputusan. Satu alasan yang tepat adalah sebagian besar peneliti yang melakukan penelitian pembuatan keputusan tidak dilatih untuk menyelidiki kepribadian. Namun, penelitian-penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa kepribadian benar-benar mempengaruhi pembuatan keputusan. Penelitian tersebut mempertimbangkan sifat berhati-hati dan harga diri.
Pertama, beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa segi-segi tertentu dari sifat berhati-hati sebenarnya memiliki pengaruh yang berlawanan terhadap peningkatan komitmen. Pada umumnya, individu yang berorientasi pada pencapaian tidak menyukai kegagalan, jadi mereka meningkatkan komitmen mereka dengan harapan bisa mencegah kegagalan. Namun individu yang patuh cenderung melakukan apa yang menurut mereka terbaik bagi organisasi. Individu yang berjuang mendapatkan pencapaian terlihat lebih rentan dengan bias peninjauan kembali, mungkin karena mereka memiliki kebutuhan yang lebih besar untuk membenarkan kelayakan tindakan-tindakan mereka. Akhirnya, individu dengan harga diri tinggi tampak lebih rentan terhadap bias pemikiran diri sendiri. Karena individu yang mempunyai harga diri tinggi sangat termotivasi untuk mempertahankan harga diri mereka sehingga mereka menggunakan bias pemikiran diri sendiri untuk mempertahankannya. Artinya, mereka menyalahkan individu lain atas kegagalan mereka dan mendapatkan pujian atas keberhasilan-keberhasilan mereka.

Gender
Baru-baru ini, penelitian mengenai renungan memberikan wawasan untuk perbedaan-perbedaan gender dalam pembuatan keputusan. Secara keseluruhan, bukti menunjukkan bahwa wanita lebih sering menganalisis keputusan dibandingkan pria. Renungan merajuk pada pemikiran mendetail. Terkait pembuatan keputusan, renungan berarti memikirkan berbagai masalah, dan wanita pada umumnya lebih berkemungkinan terlibat dalam renungan dibandingkan dengan pria.
Alasan mengapa wanita lebih sering merenung daripada pria tidak begitu jelas. Beberapa teori telah dikemukakan. Satu pandangan adalah orang tua lebih mendorong dan menguatkan ungkapan kesedihan dan kegelisahan dalam diri anak perempuan daripada dalam diri anak laki-laki. Teori lain adalah wanita lebih mendasarkan harga diri dan kesejahteraan mereka pada apa yang dipikirkan oleh individu lain tentang diri mereka bila dibandingkan dengan pria. Teori ketiga adalah wanita lebih empati dan lebih dipengaruhi oleh peristiwa-peristiwa dalam kehidupan individu lain, sehingga mereka memiliki lebih banyak hal untuk direnungkan.

Batasan-Batasan Organisasional

Evaluasi Kinerja
Dalam pembuatan keputusan, para manajer sangat dipengaruhi oleh kriteria-kriteria yang digunakan untuk mengevaluasi mereka. Apabila seorang manajer divisi yakin bahwa pabrik-pabrik manufaktur yang berada dibawah tanggung jawabnya beroperasi dengan sangat baik ketika ia tidak mendengar apapun yang negatif, seharusnya kita tidak terkejut untuk mengetahui bahwa para manajer pekerja pabriknya menghabiskan sebagian besar waktunya untuk memastikan bahwa informasi negatif tidak sampai ke atasan divisi.

Sistem Penghargaan
Sistem penghargaan organisasi mempengaruhi para pembuat keputusan dengan cara menyatakan mereka pilihan-pilihan yang lebih baik menurut hasil pribadi. Sebagai contoh, apabila organisasi memberikan keengganan risiko, para manajer cenderung membuat keputusan-keputusan yang konservatif.



Peraturan Formal
Semua organisasi, kecuali organisasi-organisasi terkecil, membuat peraturan, kebijaksanaan, prosedur, dan aturan-aturan formal lain untuk menstandardisasi perilaku anggota-anggota mereka. Dengan memprogram keputusan, organisasi mampu membuat para individu mencapai tingkat kinerja yang tinggi tanpa membayar bertahun-tahun pengalaman yang dibutuhkan dalam ketiadaan peraturan. Tentu saja, dengan demikian mereka membatasi pilihan-pilihan si pembuatan keputusan.

Batasan Waktu yang Ditentukan oleh Sistem
Organisasi menentukan batas waktu untuk berbagai keputusan. Hampir semua keputusan penting diiringi dengan batas waktu yang jelas. Kondisi ini menciptakan tekanan waktu bagi para pembuat keputusan dan seringkali menyulitkan pengumpulan seluruh informasi yang mungkin ingin mereka miliki sebelum membuat pilihan akhir.

Peristiwa Historis
Keputusan tidak dibuat dalam ruang hampa. Hal ini memiliki konteks. Pada kenyataannnya, keputusan-keputusan individual digolongkan secara lebih akurat sebagi poin-poin dalam aliran keputusan. Keputusan-keputusan yang dibuat di masa lalu adalah hantu yang terus-menerus membayangi pilihan-pilihan saat ini. Komitmen-komitmen yang telah dibuat membatasi pilihan-pilihan saat ini.

Perbedaan-Perbedaan Kultural

Model rasional tidak mengakui perbedaan-perbedaan kultural. Tetapi orang Indonesia, misalnya, tidak perlu membuat keputusan dalam cara yang sama seperti orang-orang di negara lain. Oleh karena itu, kita harus mengakui bahwa latar belakang kultural dari pembuat keputusan dapat berpengaruh signifikan terhadap seleksi masalah, kedalaman analisis, kepentingan yang diberikan untuk logika dan rasionalitas, atau apakah keputusan-keputusan organisasional harus dibuat secara autokratis oleh seorang manajer atau secara kolektif dalam kelompok.
Beberapa kultur menekankan penyelesaian masalah, sementara kultur-kultur lain berfokus pada penerimaan situasi sebagaimana adanya. AS termasuk dalam kategori pertama, Thailand dan Indonesia merupakan contoh kultur-kultur yang termasuk ke dalam kategori terakhir. Karena para manajer penyelesai masalah yakin mereka bisa dan harus mengubah situasi-situasi demi kebaikan mereka. Para manajer Amerika mungkin mengenali suatu masalah jauh sebelum rekan-rekan mereka dari Thailand dan Indonesia memutuskan untuk mengakui adanya masalah. Pembuatan keputusan oleh manajer Jepang jauh lebih berorientasi pada kelompok bila dibandingkan dengan AS. Orang Jepang menghargai kecocokan dan kerja sama. Jadi, sebelum CEO-CEO Jepang membuat sebuah keputusan penting, mereka mengumpulkan banyak informasi yang kemudian digunakan dalam keputusan-keputusan kelompok pembentukan konsensus.

Bagaimana Dengan Etika Dalam Pembuatan Keputusan?
Tidak ada diskusi kontemporer mengenai pembuatan keputusan yang lengkap tanpa keterlibatan etika, karena pertimbangan-pertimbangan etis merupakan sebuah kriteria penting dalam pembuatan keputusan organisasional. Terdapat tiga cara yang berbeda untuk menyusun diskusi-diskusi secara etis dan melihat bagaimana standar-standar etis berbeda-beda di setiap kultur nasional.

Tiga Kriteria Keputusan Etis
Pertama adalah kriteria utilitarian, dimana keputusan dibuat semata-mata berdasarkan hasil atau konsekuensinya. Tujuan utilitarianisme adalah memberikan kebaikan terbesar untuk jumlah terbanyak. Pandangan ini cenderung mendominasi pembuatan keputusan bisnis. Pandangan ini konsisten dengan tujuan-tujuan seperti efisiensi, produktivitas, dan laba yang tinggi.
Kriteria etis yang lain terfokus pada hak. Hal ini memungkinkan individu membuat keputusan-keputusan yang konsisten dengan kemerdekaan dan hak fundamental. Penekanan pada hak-hak dalam membuat keputusan berarti menghormati dan melindungi hak-hak asasi manusia, seperti hak pribadi, berbicara dengan bebas, dan yang berhubungan dengan proses.
Kriteria ketiga terfokus pada keadilan. Kriteria ini mengharuskan individu untuk menentukan dan menjalankan peraturan-peraturan dengan baik dan adil sehingga terdapat distribusi laba dan biaya secara adil. Anggota-anggota serikat kerja biasanya menyukai pandangan ini. Pandangan ini membenarkan pemberian bayaran yang sama untuk setiap individu atas pekerjaan tertentu, tanpa memerhatikan perbedaan-perbedaan kinerja, dan penggunaan senioritas sebagai penentu utama dalam membuat keputusan-keputusan pemberhentian.
   Tiap-tiap kriteria mempunyai kelebihan dan kekurangan. Fokus pada utilitarisme meningkatkan efisiensi dan produktivitas, tetapi dapat mengakibatkan pengabaian hak-hak beberapa individu-individu yang memiliki perwakilan minoritas dalam organisasi. Penggunaan hak sebagai kriteria, melindungi individu dari luka dan konsisten dengan kebebasan dan privasi, tetapi kriteria ini dapat menciptakan sebuah lingkungan kerja yang terlalu sesuai dengan hukum yang menghalangi produktivitas dan efisiensi. Fokus pada keadilan melindungi kepentingan individu-individu yang tidak mempunyai perwakilan yang cukup dan tidak begitu kuat, tetapi kriteria ini bisa mendorong rasa pemberian hak yang mengurangi pengambilan risiko, inovasi, dan produktivitas.

Etika Dan Kultur Nasional
Apa yang dianggap sebagai sebuah keputusan yang beretika di Cina belum tentu sama dengan di Kanada. Alasannya adalah tidak ada standar-standar etika yang global. Perbandingan antara Asia dan Barat memberikan sebuah ilustrasi. Meskipun standar etika mungkin dianggap ambigu di Barat, kriteria yang mendefinisikan benar dan salah sebenarnya jauh lebih jelas di Barat daripada di Asia. Hanya sedikit persoalan yang bisa dibedakan dengan jelas disana (sebagian besar tidak jelas). Perlunya organisasi-organisasi global menentukan prinsip-prinsip etis untuk para pembuat keputusan di negara-negara seperti India dan Cina, dan mengubah mereka agar mencerminkan norma-norma kultural, mungkin sangatlah penting bila standar-standar yang tinggi harus ditegakkan dan perbuatan-perbuatan yang konsisten harus dicapai.

Ringkasan dan Implikasi Untuk Manajer
Persepsi
Individu berperilaku tidak didasarkan pada lingkungan eksternal mereka tetapi lebih pada apa yang mereka lihat atau yakini. Dasar untuk perilaku adalah persepsi karyawan mengenai suatu situasi. Apakah seorang menejer merencanakan dan mengatur pekerjaan para karyawan dengan berhasil dan benar-benar membantu mereka menyusun kerja mereka dengan lebih efisien dan efektif, tidaklah begitu penting bila dibandingkn bagaimana karyawan mengartikan usaha-usaha manajer tersebut. Demikian persoalan-persoalan seperti bayaran yang adil untuk kerja yang diberikan, validitas penilaian kinerja, dan kecukupan kondisi kerja tidak dinilai oleh karyawan dalam cara yang menjamin persepsi-persepsi umum-pun kita bisa yakin bahwa individu-individu tersebut akan menginterpretasikan kondisi-kondisi pekerjan mereka dalam cara yang lebih baik. Oleh karena itu, agar bisa memengaruhi produktivitas, perlu untuk menilai bagaimana para pekerja mengartikan pekerjaan-pekerjaan mereka.

Pembuatan Keputusan Individual
Individu-individu berpikir dan membuat pertimbangan sebelum mereka bertindak. Oleh karena itu, pemahaman mengenai bagaimana individu membuat keputusan dapat bermanfaat dalam menjelaskan dan memprediksi perilaku mereka. Apa yang bisa dilakukan manajer untuk memperbaiki pembuatan keputusan mereka? Terdapat empat saran, antara lain:
1.      Menganalisis situasi, sesuaikan pendekatan pembuatan keputusan dengan kultur nasional dimana anda beroperasi dan dengan kriteria yang dievaluasi dan dihargai oleh organisasi anda.
2.      Waspadalah akan bias, kemudian berusahalah meminimalisasi pengaruh hal ini.
3.      Kombinasikan analisis rasional dengan intuisi. Ini bukan pendekatan-pendekatan yang bertentangan dengan pembuat keputusan. Dengan menggunakan keduanya, anda bisa benar-benar meningkatkan efektivitas pembuatan keputusan. Ketika mendapatkan pengalaman manajerial, anda seharusnya merasa lebih percaya diri dalam menempatkan proses-proses intuitif anda di atas analisis rasional.
4.      Berusahalah untuk meningkatkan kreativitas anda. Secara terbuka, carilah solusi-solusi baru untuk menyelesaikan berbagai masalah, berusahalah melihat masalah-masalah dalam cara-cara baru, dan gunakan analogi. Selain itu, berusahalah menghilangkan rintangan-rintangan kerja dan organisasional yang mungkin menghalangi kreativitas anda.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar